Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

“Menelusuri Jejak Sejarah Bahasa Sunda dan Dayak Maanyan: Kisah Pulau Balangah”

Minggu, 08 Desember 2024 | Desember 08, 2024 WIB Last Updated 2024-12-11T15:04:37Z
Dalam sebuah video di kanal Insight & Inspirative Channel, muncul komentar menarik: “Kenapa bahasa Dayak Maanyan dan bahasa Sunda banyak kesamaan?” Komentar ini memantik rasa ingin tahu yang mendalam, terutama ketika 

disandingkan dengan catatan sejarah yang terdapat dalam Naskah Sunda Kuno (NSK) Carita Ratu Pakuan. Naskah ini, yang tersimpan dalam koleksi Kropak 410 di Museum Sri Baduga, menjadi pintu masuk untuk menyusuri jejak hubungan antara kedua budaya tersebut.

Kisah Iring-Iringan Para Ratu
Carita Ratu Pakuan menceritakan perjalanan iring-iringan para ratu dari Keraton Galuh menuju Pakuan Pajajaran. Naskah ini terdiri dari 29 lembar lontar berukuran ±19 x 3 cm, dan ditulis di tempat bernama Gununglarang 

Srimanganti. Dalam ceritanya, disebutkan berbagai tempat, termasuk satu nama menarik: Pulau Balangah, yang disebut sebagai tempat asal Putri Atra Wangi, adik dari Ratu Gubak Tuan Marihak.

Pulau Balangah: Lokasi Misterius di Luar Jawa
Pada baris naskah, disebutkan:

 ”… putri ti Nusa Balangah.”
Artinya, Putri Atra Wangi berasal dari suatu tempat bernama Pulau Balangah, yang diidentifikasi berada di luar Jawa. Menariknya, istilah “pulau” di sini mungkin tidak selalu mengacu pada pulau secara harfiah, seperti halnya penyebutan “Pulau Palembang” dalam beberapa teks kuno.

Penelusuran lebih jauh membawa kita pada wilayah Balangan di Kalimantan Selatan. Kabupaten ini dihuni oleh Suku Dayak Maanyan, yang memiliki bahasa dengan kesamaan mencolok dengan bahasa Sunda. Apakah Balangan adalah Pulau Balangah yang dimaksud dalam naskah?

Kemiripan Bahasa Sunda dan Dayak Maanyan
Beberapa contoh kesamaan antara bahasa Sunda dan Dayak Maanyan dapat memperkuat dugaan ini. Misalnya:
 • Kalau = lamun (Sunda) = amun (Maanyan)
 • Ayo = hayu (Sunda) = hayu (Maanyan)
 • Manis = amis (Sunda) = mamis (Maanyan)
 • Perempuan = awewe (Sunda) = wawei (Maanyan)
 • Tiga = tilu (Sunda) = telu (Maanyan)

Kesamaan ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah nenek moyang orang Sunda dan Dayak Maanyan memiliki hubungan sejarah yang lebih erat?

Jejak Migrasi dan Hubungan Sejarah
Sejarah migrasi juga mendukung dugaan ini. Pada abad ke-5 hingga ke-6, wilayah Kalimantan Selatan menjadi pusat peradaban penting, termasuk berdirinya Kerajaan Tanjungpuri dan Kerajaan Negara Dipa. Suku Dayak Maanyan bahkan tercatat bermigrasi ke Pulau Bangka dan Madagaskar.

Menurut Kakawin Nagarakretagama (1365), wilayah Barito dan Tabalong, yang dekat dengan Balangan, sudah menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Pada abad ke-14, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Ampu Jatmaka dari Negara Dipa, yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banjar.

Kesimpulan: Ikatan yang Belum Terungkap
Pulau Balangah, yang diduga kuat sebagai wilayah Balangan di Kalimantan Selatan, memberikan petunjuk menarik tentang kemungkinan hubungan sejarah antara Sunda dan Dayak Maanyan. Kesamaan bahasa, ditambah dengan migrasi dan pertukaran budaya di masa lalu, memperkuat hipotesis adanya persinggungan antara kedua budaya ini. Namun, tentu masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap seluruh misterinya.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa sejarah bukanlah sekadar masa lalu, melainkan jejak perjalanan nenek moyang kita yang terus memberi inspirasi untuk memahami identitas dan warisan budaya kita hari ini.

#SejarahSundaDayak
#PulauBalangah
#BahasaSundaMaanyan
#CaritaRatuPakuan
#JejakPeradabanNusantara
×
Berita Terbaru Update