BAB 7
Dua hari sudah berlalu Mas Bimo belum juga kembali ke rumah. Aku tidak tau kemana perginya lelaki itu. Nomor ponselnya masih tidak aktif sama seperti terakhir aku menghubunginya, meminta penjelasan tentang wanita yang meminta uang kepadanya. Jangan-jangan selama ini dia meminta uang padaku dan memberikannya pada wanita itu.
"Bu!"
Aku tersadar dari lamunan. Ternyata Nur sudah berdiri di depan meja kerjaku.
"Oh, iya, ada apa Nur?"
Aku sampai tidak menyadari keberadaan Nur di ruangan ini.
Nur menundukkan wajahnya. Ia tampak gugup dan ragu. Biasanya ada sesuatu hal yang tidak aku sukai yang ingin ia sampaikan.
"Katakan saja."
Nur mengangkat wajahnya. Menatapku. "Lelaki itu datang lagi, Bu," ucap Nur hati-hati.
"Siapa?" Aku mengerutkan kening. Mencerna ucapan Nur, karyawanku.
"Yang kemarin itu." Nur menatap tangannya yang meremas ujung kemeja yang ia kenakan. Pasti takut jika aku marah.
"Gani?" tegasku. Siapa lagi, hanya laki-laki itu yang membuatku murka selama ini.
"Gani?" Nur menatap bingung. "Aku tidak tau siapa namanya, Bu."
Gegas, aku bangkit dari bangku. Ada hawa panas yang menuntun langkah kakiku lebih cepat.
"Bu!"
Nur mengekoriku, takut. Ia tau jika suasana hatiku sedang tidak stabil.
"Di mana dia Nur?" Langkahku cepat. Aku sudah muak dengan lelaki bermuka tembok itu. Dia terus mengejarku, padahal aku sudah menolaknya berkali-kali.
"Dia ada di sana Bu." Nur menunjuk ke ruang santai yang ada di cafeku. Aku kira Gani ada di ruang tunggu yang ada di toko kue ini.
Aku berdecak. Membuang wajah acuh menatap punggung Gani. Sepertinya Gani belum menyadari kedatanganku. Lelaki kuno, gagap dengan tampang culun itu sibuk mengamati ikan-ikan kecil yang ada di dalam aquarium yang aku letakan di sudut ruangan.
"Untuk apalagi kamu datang kemari?" cetusku penuh penekanan.
Gani membalikan badannya. Bibirnya mengulas senyuman ke arahku.
"Aku mencarimu," ucap Gani yang terdengar sok akrab di telingaku. Sejak pertama kami bertemu aku sudah tidak suka dengan lelaki buruk rupa itu.
Aku menyilangkan tanganku di depan dada. Memasang wajah angkuh seperti yang sudah-sudah.
"Da-dari kemarin aku menghubungimu. Ta-ta-pi kamu sama sekali tidak mem-mem-balas pesanku."
'Pesan? Pesan yang mana?'
Buru-buru aku mengeluarkan ponsel dari dalam saku bajuku. Mengecek pesan yang tidak penting yang Gani kirim padaku.
Kedua mataku seketika membulat sempurna. Ternyata ada beberapa pesan dari nomor yang waktu itu mengirimkan video Mas Bimo ada di sebuah hotel di puncak. Itu berarti, Gani adalah pemilik nomor itu?
"Oh, jadi kamu pelakunya yang memfitnah suamiku?" Aku muntab. Kepalaku serasa mengepulkan asap putih keudara.
"Fitnah?"
Ekspresi Gani seolah tidak menunjukkan rasa penyesalan sama sekali. Padahal gara-gara video yang ia kirimkan hubunganku dengan Mas Bimo menjadi renggang.
"Iya Fitnah?" sahutku sarkas. "Untuk apa coba kamu mengirimkan video suamiku saat ia sedang kerja di bandung. Untuk memanas-manasiku. Biar aku dan suamiku ribut, begitu?"
"Sa-Sania."
"Pakai acara nakut-nakutin lagi. Nyuruh ninggalin suamiku. Emangnya kamu siapa, Gani?" Aku berdecak sinis. Menatap jijik pada Gani.
Beberapa pengunjung kue yang datang ke tokoku menjadikanku dan Gani sebagia tontonan. Biarlah, semoga dengan begini Gani tidak menggangguku lagi.
"Hey, Gani, harusnya kamu bercermin dulu sebelum mencintai perempuan. Kamu layak tidak? Apa jangan-jangan kamu di rumah tidak punya cermin?" cibirku sengaja mempermalukan Gani. Beberapa pengunjung toko kueku menertawakan Gani, begitu juga denganku yang sengaja menertawakannya paling keras.
Gani bergeming cukup lama. Ia hanya menatapku datar. Tidak menjawab apapun dan aku sama sekali tidak peduli.
"Kenapa? Mau marah?" ejekku sinis. Menertawakan Gani. Gani tetap membisu.
"Aku hanya mengingatkan kamu saja, Sania. Tidak lebih!" ucap Gani. Lelaki berpenampilan culun itu pergi meninggalkan toko kueku. Entah mengapa hatiku merasa tercubit mendengar jawaban Gani. Lelaki gagap itu juga mendadak tidak gagap.
'Apakah aku sudah keterlaluan?'
___
Masih sama. Tidak ada kabar sama sekali dari Mas Bimo. Aku juga tidak tau harus mencari kemana informasi tentang Mas Bimo, yang aku tau dia perantau di kota ini dan yatim piatu. Mas Bimo tidak punya siapapun sama sepertiku yang sejak kecil hidup sebatang kara. Aku hanya anak panti asuhan yang merintis usaha dan kini telah sukses. Begitu juga dengan Gani, kami tumbuh di satu panti asuhan yang sama.
Pukul delapan malam saat hendak tidur pikiranku mendadak tidak enak. Aku merasa ada yang mengganjal. Pandanganku tertuju pada lemari pakaian Mas Bimo. Apa jangan-jangan lelaki itu hanya ingin memerasku dan kabur bersama wanita simpanannya?
Pikiran buruk tentang Mas Bimo terus bergerilya memenuhi isi kepalaku.
Aku beranjak dari pembaringan menuju lemari yang ada di sudut kamar. Aku menarik gagang pintu lemari. Nihil! Jelas saja, Mas Bimo selalu mengunci pintu lemari itu. Ia paling tidak suka jika aku menyentuh barang-barang pribadinya. Pasti karena dia memang tidak benar-benar mencintaiku. Jika dia mencintaiku, pasti perlakuannya akan berbeda.
"Shit!"
Aku mengumpat kesal karena pintu lemari tidak dapat kubuka. Padahal aku sudah menariknya sekuat tenaga.
Aku mengusap wajahku kasar. Berusaha berpikir jernih, mencari cara untuk membuka pintu itu. Tapi sepertinya aku memang harus melakukannya dengan cara yang kasar.
Aku mengambil linggis dari dapur untuk mencongkel pintu lemari. Dalam hitungan ke tiga pintu lemari itu berhasil kubuka dan isinya sungguh membuatku tercengang ...
___
Bersambung ...
Baca cerita selengkapnya di KBM
judul Rahasia Yang Disembunyikan Suamiku
Penulis Ayu Kristin
#viral #fyp #dramaindo
